Dongeng Semusim : Cinta Dalam Keluarga Bak Rasa Sup yang Bercampur



Judul

:

Dongeng Semusim

Penulis

:

Sefryana Khairil (www.sefryanakhairil.net)

Penerbit

:

Gagas Media

Tebal

:

viii+260 hlm; 13 x 19 cm

Terbitan

:

Cetakan Pertama, 2009

ISBN

:

979-780-369-4

Harga

:

Rp 30.000,-

Kategori

:

Novel

Tuhan tahu kita tidaklah sempurna, tapi menjadikan sempurna saat bersama

Kalimat yang diucapakan Sarah di bagian akhir- akhir novel menggambarkan betapa indah, dan merdunya saat cinta mulai merambah hati dua insan manusia. Termasuk di dalamnya Sarah dan Nabil. Kesederhanaan saat jumpa tak pernah mengurangi megah dan agung rasa cinta yang dimiliki oleh keduanya. Kidung- kidung yang sering dinyanyikan oleh diva- diva dunia, seolah mengirigi langkah hidup keduanya setiap hari. Mampu mengubah apa yang biasa, menjadi luar biasa.

Bertemu di saat aktivitas kerja dalam dunia warta, Nabil yang berprofesi sebagai photographer, dan Sarah sebagai redaktur majalah Delicious, semacam majalah tentang makanan. Keduanya bertemu dalam satu proyek. Bak jurus ampuh Dewa Cinta, keduanya terjebak dalam melodi cinta yang merdu saat pertama didendangkan. Menentramkan jiwa gigih Nabil, dan kelembutan seorang wanita Sarah. Dan bertemu dalam rajutan sutra indah, bernama cinta. Menyatulah dua hati yang tak ada yang merencanakan selain Tuhan, Dzat Pemberi Cinta. Tuhanlah yang mengatur pertemuannya hingga mengatur setiap senti dari hatinya, agar selalu menyebut dan berdetak menyebut nama kekasih yang telah melumpuhkan logika dasarnya. Hingga terjerembab dalam hati yang berbunga cinta.

Keseriusan hubungan keduanya tertuang dalam ikatan suci yang diikrarkan dihadapan wali dan saksi. Dalam sucinya pernikahan. Meski sebelumnya Sarah harus berhijarah dari agamanya yang lama ke agama yang dianut oleh suaminya Nabil, Islam. Meski ayah Sarah, mencoba mengingatkan keputusan paling dasar yang diambilnya. Namun dengan keyakinannya Sarah menjawab “Maafkan aku, Ma, Pa. Ini pilihanku karena aku mencintai pria ini”. Karena cintalah, Sarah tegar bak karang mengambil keputusan ini.

Cinta telah memberinya hembusan semangat yang kuat dalam jiwanya. Meyakinkan bahwa setiap kesusahan dalam persiapan pernikahan adalah jalan perwujudan cinta keduanya. Kesusahan dalam proses fitting baju pengantin, hingga urusan dengan EO pernikahan mereka. Kejengkelan saat didera semua itu, dalam kondisi deadline pekerjaan, selalu saja hilang saat mereka bertatap muka dan bersapa hati. Mungkin cinta diantaranyalah yang menentramkan hati mereka. Hingga masa itupun datang. Pernikahan suci yang diagungkan keduanya. Lelehan air mata keluarga menambah khidmat prosesi suci nan sakral itu. Keduanya sah menjadi dua sejoli, yang hidup dalam satu atap cinta, dan membawa bahtera kebahagian keluarga.

Awal mula menjalani hidup bersama, tak ada yang menandingi kebahagian keduanya. Bersama berdua. Kalau guyonan orang lain “Seolah dunia milik berdua, orang lain ngontrak saja. Rumah sederhana, dengan atap cinta menambah mesra keduanya. Mencoba mengarungi laut kebahagian yang sering didamba banyak orang. Namun laut yang dilalui tak selama tenang seperti yang didamba. Riak hingga gelombang ombak besar, sudah siap menunggu untuk menghantam perahu yang melintas.

Mulailah gelombang itu menerpa bahtera merekan berdua. Saat Sarah memasang kaligrafi, pemberian Gladys rekan kerja Sarah. Nadif begitu tidak menerima, atas apa yang dilakukan Sarah. Ketika Sarah mulai mulai berubah untuk lebih taat beragama, salat, ngaji, berjilbab, hingga salat sunnah Dhuha. Nabil begitu acuh, dan seolah tidak menerima perubahan yang terjadi pada Sarah. Meski hal ini seharusnya baik, karena Nabil dan Sarah sendiri adalah yang beragama Islam. Acuh dan tak acuh nabil terlihat saat Sarah hamil untuk anak pertamanya. Sarah dan keluarga besar mereka berdua bahagia dengan kehamilannya. Namun Nabil seolah takut, dan memikirkan kerepotan memiliki bayi, ia begitu acuh dan tak memperhatikan keadaan istrinya. Ia larut dalam kesibukannya sendiri, proyek- proyek iklan, hingga lembur yang berlarut- larut.

Sarah yang mengerti bahwa suaminya kian berubah mencoba menanyakan perihal tersebut. Mengapa dan harus bagaimana. Keluarganya kering, tandus, tanpa ada komunikasi. Nabil begitu menenggelamkan dalam kesibukan kantor dan proyek. Meski serumah dengan istrinya namun tak ada komunikasi yang sehat. Saling diam, dan saat ditanya oleh Sarah perihal perubahannya. Selalu dijawab dengan keras, dan tak ada tanda cinta di setiap kata yang terucap. Di sisi lain Sarah mencoba banyak hal agar suaminya kembali dan mengertinya. Mulai membuatkan pancake kesukaan suaminya, mencoba berbakti sebagai seorang istri setiap hari. Meski lelah di dapur hingga malam, tak ada respon dari suaminya. Dan kata- kata hampir putus asa Sarah “Aku begini untukmu, Bil. Untukmu! Kenapa kamu seperti ini? Kalau kamu memang mau menyakitiku, lumatlah aku kuat- kuat dan tenggelamkan aku!”. Hati Nabil yang meski tak tega melihat isttrinya sedih, namun tetap keras mempertahankan prinsipnya.

Hingga Sarah jatuh tersungkur berusaha mempertahankan cinta, keluarga, dan bayi dalam kandungannya. Buah cinta dengan suaminya gugur dalam perjuangannya. Tangisnya membahana, ssedihnya tak terkira. Sudah lelah tubuh dan jiwa Sarah berusaha menenangkan hatinya yang perih, mencari kelengkapan hati bersama keluarga. “Aku bahagia, Ma. Juga merasa sakit”. Di sinilah Nabil mulai sadar akan cinta istri, dan kesalahan dirinya. Nabil sadar bahwa Sarah adalah istri yang luar biasa, begitu berbakti meski di tengah kecuekan dan egois Nabil. Meski berkali- kali Nabil meminta untuk Sarah pulang ke rumah mereka kembali, dan sering lagi Sarah meminta untuk tungu dulu. Di akhir- akhir Sarah luluh, untuk menjaga keutuhan cinta mereka berdua. Karena Sarah memang tak bisa hidup tanpa ada sisi hati yang dibawa oleh Nabil, suaminya. Sedang hati Nabil, kini lebih mengert bahwa pernikahan, tak hanya menyatukan dua raga, namun jiwa dan keseluruhan ego dan sisi- sisi pribadi saat sendiri.

Kemahiran Sefryana sebagai penulis dalam mengungkapkan permasalahan awal pernikahan patut diacungi jempol. Meski belum pernah status gadis masih tertera dalam KTP-nya. Kejelasan karakter setiap pemain begitu jelas, dan menarik dengan sedikit percakapan yang dibumbui mesra yang indah. Penulis begitu lincah menyematkan nilai- nilai islam, yang disampaikan dengan cara yang cantik. Berbeda dengan novel- novel yang genrenya sudah jelas islam dari judulnya. Namun ia begitu cantik, menyiratkan nilai yang ia sampaikan. Bahasa pop yang digunakan pun begitu enak untuk dinikmati oleh semua kalangan, baik yang sudah berpasangan ataupun belum.

Di sisi lain di penulis terlihat hanya separo dalam menulis. Konflik- konflik yang disampaikan hanya kecil, dan apabila dieksplor lebih maka akan lebih kompleks, dan inilah yang membedakan novel dan cerpen biasa. Akhir cerita yang mudah di tebak oleh pembaca, membuat mood untuk membaca di bagian terakhir sedikit tergerus. Ketegasan ending yang diberikan dapat dengan mudah ditebak oleh pembaca. Selalu happy ending.

Lebihnya buku ini asyik untuk dibaca, karena cerita yang menggambarkan kehidupan awal pernikahan. Yang penuh kebahagian, dan juga tak lupa masalah. Apabila masalah yang ada dihadapi dengan terburu- buru, maka perpecahan akan tak terhindarkan. Ketika ikatan suci bersama diucapkan, maka segala ego pribad harus mulai dikalahkan. Karena kini tidak lagi sebagai individu yang bisa kemana saja, namun sudah menjadi sepasang yang selaras dan seirama. Meski tidak harus sama total. Pastilah pasangan kita bukanlah nabi yang sempurna, terimalah dengan lapang selapang saat cincin mulai masuk pada jemari manis. Percayalah bahwa ia akan menjadi sempurna, saat bersama dan saling melengkapi perubahannya.

Jarene wis jodho, opo- opo duweke wong loro…

Kalau sudah jodoh, semunya milik berdua

Iki Weke Sopo?”, Waldjinah

Mad Soleh Emang Jago Buat Cerita Aneh


Juara 3 Guyonan Novel Seribu Tahun Cahaya

Dicari buku dengan identitas :

Judul

:

Seribu Tahun Cahaya (kayaknya umur buku, nggak semanis judulnya)

Pengarang

:

Mad Soleh (Bukan saudara Mad Solar, dan tidaklah sesoleh namanya)

Penerbit

:

Penerbit Pustaka Bimasakti (meski belum tenar)

Jumlah Halaman

:

vi + 245 halaman (ditambahi dengan gambar yang lucu, ala Yos Gandhos)

Ukuran

:

14,5 x 20 cm

ISBN

:

978-979-19442-0-5

Harganya

:

Meski tergolong mahal Rp 40.000,00, kalau dapat diskon 20% menjadi Rp 32.000,00

Penghargaan

:

Buku terlaris karena banyak dicari pembeli untuk mengikuti kompetisi ini

Membeli buku ini tidak pernah menjadi agenda yang direncanakan. Namun terlebih karena kompetisi ini membutuhkan pembatas buku sebagai syarat dari perlombaan. Sungguh ini adalah strategi bagus unutk menarik minat beli dari pembaca, yang sebenarnya tidak terlalu tertarik membacanya. Melihat perlombaannya sudah terlihat aneh, dengan hadiah yang beruurtan sesuai dengan deret ukur, entah aneh atau unik lain dari yang lain. Keluar dari yang dianggap wajar. Nyleneh dan tentunya aneh.

Seribu Tahun Cahaya, terbayang langsung sebuah besaran dalam sistem astronomi yang mengambil dasar dari kecepatan cahaya 3x108 m/s. kalau dihitung pasti itu adalah sebuah jarak yang tidak pendek. Sejauh perjalanan dari Bahlol dan teman- teman dalam ekspedisi Planet Zarah. Entah dari mana nama Zarah, direkomendasikan. Yang pasti nama itu tidak ada dalam nama planet yang sekarang ini.

Buku ini, yang dikategorikan oleh penulis sebagao novel, memang aneh sangat beda jauh dari apa yang sering dibaca. Di halaman awal sudah kita temukan sebuah ganjil, yang konyol dan super boong. Imagination is more important than knowledge (Albert Einstein), tidak ada yang salah dengan kata ini. Namun penerjemahannyalah yang salah. Masa dengan arti berkhayal lebih menyenangkan dari pada belajar. Memang benar. Tapi Pak Dhe Einstein bukan seperti itu maksudnya. Bahwa hampir semua ilmuwan yang berhasil menemukan penemuan besar (pasti Mad Soleh tidak akan masuk), memulai penelitian dari mimpi. Bill Gate bermimpi dimana setiap rumah atau bangunan yang ber-windows akan menggunakan OS Windows buatannya. Bukan kok terus berkhayal, karena keenakan berkhayal. Mungkin juga buku kecil ini adalah hasil khayalan tingkat tinggi, dari Mad Soleh. Buktinya banyak tokoh, cerita yang benar- benar fiktif.

Berlatar keadaan super canggih dunia tahun 2099. Novel ini, atau lebih tepat disebut sebagai kumpulan guyonan, menceritakan kisah orang- orang pintar. Mulai dari Bahlol, Tong Koo Song, John Lemon, Siti Nurhalida, Cui Lan Cuo, dan Yok Opo Ini. Nama mereka memang sungguh aneh. Dalam pikir manusia mereka lebih tepat, meniru dan memodifikasi sedikit dari nama yang sering kita dengar. Siti Nurhaliza, Yoko Ono, John Lenon, merupakan nama- nama orang tenar. Namun kalau Bahlol, yang berarti orang bodoh belum dapat ditemukan tokoh yang bernama hampir sama. Atau jangan- jangan menyindir orang bodoh yang ada di Indonesia. Karena dikisahkan Bahlol berasal dari Indonesia. Mereka berenam adalah antariksawanti. Sebutan untuk antariksa masa itu.

Ada satu yang narsis di sini. Mentang- mentang penulis adalah orang Lamongan, maka terkesan bahwa pusat segala kecanggihan Indonesia saat itu, terletak di Lamongan Kota Soto itu. Mulai dari pusat luar angkasa, hingga Tanjung Kodok yang tidak hanya Pusat Wisata, diubah menjadi Pusat Luar Angkasa. Disebutkan pula bahwa saat itu Indonesia menjadi satu- satunya negara yang mampu menjelajah luar angkasa, dengan kecepatan tinggi. Uuuh semoga ini bukan mimpi di tengah siang bolong Mad Soleh saja. Kelak mimpi Mad Soleh menjadi kenyataan seperti mimpi pemimpin bangsa saat ini. Marwah Daud Ibrahim, IESQ Ari Ginandjar menargetkan hal tersebut. Bahkan Amerika disebut sebagai Negara Tanpa Merica, meski memang tidak punya hasil pertanian berupa merica kenyataannya. Kurang etis ini, tidak dapat ditebak, jikalau agen Amerika menemukan buku ini di Toga Mas, Gramedia, atau toko lainnya.

Indonesia menjadi RIS kembali, Republik Indonesia Serikat. Lagu kebangsaan Indonesia Raya berubah menjadi Indonesia Kaya Raya. Ada dua tafsir dari kata ini, menjadi ‘KAYA’ yang sangat raya, atau menjadi hanya kaya (seperti) ‘RAYA’. Menjadi hanya mirip keadaan seperti ini.

Keenam antariksawanti mampu mendarat ke Planet Zarah, planet nan jauh di mato, yang diharapkan mampu menggantikan bumi yang sudah tua. Liburan di Planet Zarah harus dipulangkan, karena konflik dengan Negara Tanpa Merica. Kalau ini berbeda dengan keadaan saat ini, dimana Indonesia masih menjadi salah satu Negara yang patuh, bertekuk lutut pada USA si Negara Tanpa Merica itu. Setibanya di bumi, mereka mendapat tugas besar kembali. Tentunya selepas lelah dan penat, hilang pastinya. Mereka mendapat tugas untuk ekspedisi yang kedua. Berangkat kembali ke Planet Zarah. Namun kali ini mereka harus berpasangan sebagai suami- istri. Hal ini untuk menguji kemampuan reproduksi manusia, di sana di Planet Zarah. Dan terpaksa keenam pasang itu dijodohkan secara paksa oleh Pak Dulkamit, kepala lembaga antariksa Pangkal Peluang Tanjung Kodok. Dengan Bahlol dengan Siti, John dengan Cui, serta Tong dengan Yok.

Namun mereka semua menolak, kecuali Tong dan Yok yang sebenarnya terpaksa karena dijebak oleh teman- teman mereka. Dan terpaksalah Tong dan Yok menjadi pasangan dadakan. Hehehe sepertinya Mad Soleh, sudah pengalaman terhadap hal ini.

Kisah kebohongan Siti, yang menyamar dengan nama Perempuan yang (tidak) Terbuat dari Bayang- bayang. Rasa cinta pada Bahlol terpaksa ia sembunyikan, ketika sebelumnya Bahlol pernah melamarnya. Di akhir cerita digambarkan bahwa Siti mengakui cintanya pada Bahlol saat ia telah terbaring sakit. So sweet…..

Kisah- kisah yang ditampilkan terkesan terpisah satu sama lain. Setiap sub bagian atau sub bab memiliki masalah sendiri, dan kadang- kadang tidak matching dengan judul yang ditampilkan. Berbicara judul setiap bab, kadang menggelitik. No women no cry, mirip- mirip iklan sabun mandi Nuvo jadinya. Atau yang jiplak Nuvo. Waallahu’alam. Ini plagiat slogan. Tong Koo Song Nyaring bunyinya, mirip peribahasa “Tong Kosong nyaring bunyinya” entah menindir siapa, entah Tong tokoh yang berlantang berbicara, atau memang tong yang kosong ynag berbunyi. Sayur Sembukan, di Blora tempatku daun sembukan untuk pakan sapi, bukan pakan manusia. Atau mungkin pikir penulis adalah masa mendatang semua tanaman dapat dimanfaatkan untuk manusia.

Mad Soleh sangat lihai menguraikan sebuah mimpi. Mimpi Indonesia kelak di 2099. Dalam menguraikan terkesan narsis dan kadang keterlaluan. Mulai dari terlalu seringnya menyebut Lamongan sebagai pusat segalanya. Makanan- makanan yang terkesan ‘ndeso’ seolah menjadi makanan yang beken dan mengalahkan pusat makanan saat ini.

Novel ini sangatlah menjunjung kearifan lokal (local wisdom) yang dijelaskan dengan nasis. Terkesal berlebihan dan kadang tidak masuk akal. Novel ini menurut hemat saya, belum dapat dikatakan novel. Akan lebih baik kalau masalah- masalah yang ada dibahas dan digambarkan secara gambling. Karena novel ini terkesan hanya membahas sebatas dengkul kurang mendalam. Cerita super fiksi ini, kenapa karena hampir semua bagian tidak dapat ditemukan dalam keadaan sekarang. Khayal kita yang membaca kadang pun tidak sampai memikirkannya. Mulai pindah tempat ke Palnet Zarah, semua jenis buah dapat disilangkan hingga muncul buah Khusd, petai tanpa bau, mobil yang bisa terbang, benda yang super ringan namun super kuat. Semua benar- benar fiktif tanpa logika membuatnya.

Dalam cetakan ada beberapa kesalahan seperti penulisan teknologi yang ditulis tekonlogi (hal.9), mencarai (hal.17) dan yang lainnya. Meski ini novel pertama Mad Soleh, semoga bukan yang terakhir, namun yang pasti editor sudah berapa kali mengedit novel dan buku lainnya. Kesalahan cetak kadang belum sempurna dalam proses editing. Jangan sampai kesalahan seperti ini terulang pada cetakan atau terbitan selanjutnya. Ada kata- kata yang dalam bahasa jawa ada arti, namun tidak dijelaskan artinya dalam buku ini. Misalkan abab (hal.27) yang kalau tidak salah artinya adalah bau mulut, tidak disebutkan artinya disini. Padahal yang membaca buku belum tentu adalah orang jawa.

Ada pesan tersirat yang merupakan auto kritik buat kita semua. Semisal dana pendidikan yang disebutkan di awal buku sampai 30%, sedang di Indonesia kita masih berkutat 20% itupun masih sering kena potongan saku jas orang berdasi. Pluuhhh. Kasus Ceriyati yang dalam buku ini di sindir dengan begitu halus, dan jangan karena terlalu halus justru tidak merasa disindir. Cerita pemilihan keenam antariksawanti melalui audisi, menyindir dunia instan dalam entertainment di Indonesia.

“Berbakti kepada negara tidak harus dengan menjadi presiden” ini adalah subtansi yang bagus. Berkebalikan dengan ketiga pasangan capres- cawapres kemarin. Kalimat penutup buku ini “Separuh hidup ini adalah ironi, dan separuhnya lagi adalah humor” mirip dengan buku ini.

Beli kerang di Pantai Buru

Tempatnya jauh dari sini

Mau senang bacalah buku

Tapi jangan sampai buku ini

Papeda sagu dari Irian Jaya

Ditunggu buku dan lomba selanjutnya

Santen peresaning klopo,

Cekap semanten atur kawulo

Lyla dan Temannya

Lyla dan Temannya

“Burhan” dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar, hingga kerut pipinya bergetar dan pipinya kelihatan berlesung menambah manisnya wajah bocah itu.

“Namaku Lyla. Aku tinggal baru disini bareng mama, papa dan kedua kakakku. Baru dua hari ini kami pindah”, jawab Lyla dengan kembali membalas senyum Burhan.

“Kamu kelas berapa?”tanya Lyla gadis cilik cantik itu kepada Burhan.

“Kelas 3. Lha Kamu?”, jawab singkat oleh Burhan.

“Sama, aku juga kelas 3. Jangan- jangan sekolah kita sama. Aku di SD Nurul Fikri di ujung kompleks ini”

“Memang benar. Sungguh kebutulan aku juga satu sekolah sama kamu”

Dari jauh mama Lyla memanggil dengan suara yang keras. Berdiri di ujung teras rumah.

“Lyla ayo, Adik belum mandi. Sudah sore” teriak Mama Anis, Mama Lyla.

“Burhan mamaku sudah memanggilnya. Besok pasti kita akan bertemu di kelas nanti. Dada Burhan”, begitulah pertemuan pertama Lyla dengan sahabat barunya Burhan. Sembari Lyla melambaikan tangan, ia berlari kecil ke rumah menuju rumah.

Setiap sore, sebelum jam lima Lyla akan mandi. Karena ia sangat rentan dengan udara dingin, sakit asmanya dapat kambuh. Dan setiap kambuh maka semua keluarga repot dibuatnya. Mamanya, Mama Anis, akan segera memanaskan air dan membuat tah hangat. Papanya Pak Rahman, akan mencari- cari dimana ia menaruh obat dan oksigen Lyla. Betapa kasih dan sayang orang tua Lyla sangatlah besar. Meski kedua orang tuanya pantang berucap demikian.

Lyla adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya sudahlah besar. Kakak pertama si Lea sudah duduk di bangku SMA IT Nurul Fikri, sedangkan yang kedua duduk di bangku SMP Lucky SMP Nurul Fikri dia sekolah. Sedang Lyla yang baru saja mendapat sekolah baru SD IT Nurul Fikri. Kedua orang tuanya adalah pekerja pegadaian, yang harus siap setiap waktu untuk dipindahkan.

“Kalau dik Lyla sudah mandi, jangan lupa buat PR buat besok”

“Mama, tadi Lyla ketemu teman baru. Namanya Burhan, rumahnya satu kompleks dengan kita. Dan dia satu kelas sama Lyla. Seneng deh Ma” ucap Lyla

“Burhan…! O ya Lyla sudah punya teman sendiri. Tapi kalau main hati- hati jangan sampai Lyla nanti kenapa- kenapa”, nasihat Mama Anis kepada Lyla anak kecil kesayangannya dan keluarga.

“Besok Mbak Lea akan ke Bandung” Mama Anis kembali memulai pembicaraan kembali

“Mbak Lea ke Bandung. Wah asyik nanti Lyla mau nitip ah. Beliin kaos Bandung biar mirip sama Cindy kan seneng bisa sama- sama teman”, pinta Lyla dengan wajah yang sumringah penu harap.

“Nanti Dik Lyla bilang sendiri ke Mbak Lea, ya?”, balas Bu Anis agar Lyla semakin bahagia.

“Dik Lyla buat PR aja ya. Jangan lupa sholat ashar dan nanti AC kamarnya dimatikan, biar asma Dik Lyla dak kambuh lagi. Mama mau siapkan makan malam. Bentar lagi kakak- kakak mu pulang. Papa pun habis maghrib pulang”

“Siap Mama!”

Segeralah Lyla gadis cilik cantik itu beranjak dari kursi meja makan, dan berlarian ke kamarnya di lantai dua. Jilbab putih kecilnya berkelebat bersamaan dengan lari kecilnya melewati tangga dan masuk ke kamar. Lyla gadis cilik cantik, yang patuh kepada kedua orang tuanya. Termasuk menjaga semua pantangan makanan dari dokter yang dinasihatkan. Lyla tidak pernah protes kepada Mama.

Lyla yang cantik, kini terdalam dalam meja belajar. Prestasi Lyla tidak pernah buruk. Selalu saja ia tidak pernah absen dari peringkat kelas. Jadi Lyla pun sekarang tidak mau luput dari prestasi itu. Meski kini ia harus berjuang di sekolah yang baru.

“Tok…tok…tok….”, pintu kamar Lyla diketuk.

“Sebentar Lyla sedang ngerjakan PR Ma”, jawab Lyla.

Beberapa menit kemudian ia bergerak menuju pintu dan membukanya.

“Burhan, kau kesini?”

“Iya tadi Mamaku sudah izinkan untuk main. Dan Tante Anis suruh langsung ke atas”

“Burhan…Burhan. Kamarku disini. Dan belum rapi, karena Mama masih bergilir merapikannya. Burhan Tunggu di teras saja. Nanti Lyla nyusul”, pinta Lyla ke Burhan.

“Burhan tunggu di teras ya…! Burhan kesepian di rumah, jadinya main ke rumah Lyla”, terang dari Burhan.

Segera Lyla menyelesaikan tugas dan menyusul Burhan di teras rumah, yang sudah menunggunya untuk bermain. Dia membawa komik kesukaan Lyla agar mereka berdua dapat membaca bersama- sama.

“Kamu suka baca komik nggak? Aku suka komik Kung Fu Boy. Adegan dan ceritanya itu lucu sekali. masa seorang anak kecil bisa menjadi hebat kaya gitu. Ya aneh gitu. Bisa dak ya kalau Lyla menjadi Kung Fu Girl. Hehehehe” mulailah mereka bercanda dan ketawa asyik membaca komik. Hingga mereka berdua lupa kalau adzan sudah berkumandang.

“Burhan kamu ndak pulang. Sudah malam dan Lyla harus sholat berjamaah dulu. Mama pasti sudah menunggu Lyla. Kak Lea dan Lucky pun sudah pada pulang. Kita mau Sholat maghrib dulu. Burhan pulang dulu ya”

“Iya Burhan pulang, nanti kalau ada kesempatan pas Lyla dak sedang ribet, pasti Burhan datang. Selamat malam Lyla. Nitip salam buat Tante Anis, Mbak Lea sama Mas Lucky”

Segeralah Burhan pulang untuk bersiap kegiatan malam. Sedang Lyla ke dalam rumah, untuk makan malam dan sholat maghrib.

Sholat maghrib usai dengan penuh khusyuk. Lantuan dzikir dan doa mengalir dari bibir kecil mungil Lyla. Berbagai doa terutama agar dosa serta kesalahan Lyla dan orang tua dapat diampuni oleh Allah Yang Mahaesa. Jilbab putih kecilnya mewarnai suci dan putihnya hati Lyla. Segeralah mereka sekeluarga makan malam di ruang tengah. Suasana yang sangat menjadi favorit oleh Lyla. Karena biasanya di meja itu, mereka akan bertukar cerita sehari dan curhatlah mereka semua.

“Mbak Lea besok ke Bandung ya? Mau kemana Mbak?”, mulailah Papa memulai.

“Ya Pa. Besok Lea ada kunjungan ke SMA 1 Bandung, dan nanti kunjungan ke Balai Bahasa, katanya disana ada lomba aklamasi puisi tingkat SMA. Biar bisa nimba ilmu”, jawab Mbak Lea

“Mbak Lea pengen kaya WS Rendra. Soale kemaren SMAnya kedatangan Rendra. Ya kan Mbak?”, tegas mama.

“Iya nanti hati- hati saja di jalan. Dan tetap dijaga agar tidak bercampur antara putra dan putri”

“Siap Papa. Pokoknya nasihat papa tetep Lea ingat dan Insyaallah dilaksanakan”, jawab Lea atas nasihat Papa.

“Mbak Lea, nanti Lyla dibelikan kaos bergambar gedung sate ya Mbak. Kayak Cindy biar bagus”, pinta sambil rengek kepada Mbak Lea.

“Iya- iya nanti Mbak Lea belikan buat Mama, Papa, Dek Lucky sama Lyla yang cantik sendiri”, pecahlah tawa satu keluarga di ruang makan malam itu.

Mas Lucky bilang bahwa diajak oleh temannya untuk nonton film Harry Potter sama teman- teman SMPnya. Namun Papa melarang untuk bersama.

“Mas Lucky nanti kita nonton bareng satu keluarga saja. Biar kita semua senang saja. Nanti ya kalau Mbak Lea sudah balik dari Bandung”

“Oya Mama, Papa tadi dapat salam dari teman Lyla. Burhan, namanya. Dia tadi main ke rumah. Dia tadi baca komik bareng Lyla. Di teras”, jelas Lyla kepada semua keluarga.

“Burhan tadi main ke sini Lyla?”, tanya Mama ke Lyla.

“Iya Ma”

“Kok Mama dak lihat”

“Mama Pas di dapur kan Ma? Kita tadi main di teras kok. Dan kita cuma main- main di teras kok”,

“Ooo. Ya sudah nanti kalau main ke sini, dikenalkan sama Mama saja. Biar pas. Kalau sudah selesai makan kembali ke kamar. Biar mama bereskan saja. Lea bajumua di packing jangan sampai besok terburu- buru. Lucky hafalannya nanti di murojaah sama Papa. Lea nanti mama nyusul ke kamar, Mama bacain kisah shahabat nabi”, ujar Mama ke semua anak- anak tercinta mereka.

Pagi hari sekali keluarga itu sudah bangun. Mama dan Papa sudah bangun untuk sholat malam, bersama Lea dan Lucky. Sedang Lyla baru dibangunkan menjelang subuh. Meski kadang pun Lyla sudah dibiasakan untuk sholat malam. Subuh mereka akan berjamaah. Papa dan Mas Lucky akan pergi ke masjid komplek untuk berjamaah di sana. Sedang Mama, Mbak Lea, dan Dik Lyla akan berjamaah di rumah saja. Usai subuh, mereka akan sibuk dengan lantunan ayat al quran. Semuanya semangat ketika pagi sudah mulai bangun bergeliat.

Lyla berangkat ke sekolah dengan semangat dan senyum manis pagi hari. Lyla berangkat bersama kedua kakanya diantar oleh Mama Anis. Sedangkan Papanya akan berangkat dengan menggunakan Trans Jakarta, lebih karena dekat dengan kantor. Dan Mama harus lela berjibaku dengan macet Kota Depok untuk mengantarkan ketiga buah hati mereka meski mereka bertiga satu komplek sekolah.

Lyla dengan begitu semangatnya bermain dan bercengkerama dengan kawan baru, di kelas tiga. Burhan dan teman- teman baru Lyla. Burhan memang sudah akrab, menjadi sahabat pertama dan yang paling dekat dengan Lyla, gadis mungil dengan jilbab putih menempel di kepalanya. Pertama dan berkali- kali ia bersama dengan Burhan untuk sekedar bertukar cerita, dan menikmati bekal makan siang mereka.

“Burhan, Lyla pulang dulu, Mama sudah nunggu”

“Burhan juga akan pulang. Umi dan Abi akan mengajak Burhan ke PRJ”

“Kalau Lyla, akhir pekan ini mau nonton film Harry Potter, bareng. Asyik deh”

“Burhan boleh ikut nggak? Sama Mama juga”, pinta Burhan ke Lyla sahabat baiknya.

“Boleh nanti tak bilang ke mama”

Hari ini usailah mereka berjumpa dalam sekolah. Hari- hari penuh bahagia seolah tak pernah terlewatkan satu pun dari diary Lyla.

“Dik Lyla. Mbak Lea belum pulang. Mbak Lea tadi SMS Mama kalau paling cepat nanti jam 9 malam”

“Dak Papa Ma. Dik Lyla nanti aja. Pasti Mbak Lea beliin kaos Gedung Sate, buat Lyla. Pas besok nonton film mau Lyla Pakai. Oya Ma Burhan mau ikut nonton barengan. Burhan sama mamanya kok. Biar ramai ya Ma”, cerita Lyla.

“Boleh asal nanti Lyla tetap sama Mama ya. Itu Mbak Lea mungkin sudah pulang”

“Ye Mbak Lea. Asyik….. Mbak Lea……”, teriak Lyla.

“Assalamu’alaykum”

“Wa’alykumusalam Mbak Lea”, jawab Mama dan Lyla bersamaan.

“Alhamdulillah Ma, tadi Lea bisa bertegur sapa dengan Rendra. Terus Lea minta tanda tangan”

“Mbak Lea, mana titipan Lyla. Dibelikan kan?”

“Wah rombongannya tadi nggak sempat main ke Gedung Sate. Tapi tadi tak belikan jilbab baru buat Lyla. Warnanya pink kesukaan Lyla”

“Mbak Lea ah. Kan Lyla sudah bilang Lyla minta kaos Bandung. Lyla sudah banyak kalau jilbab warna pink”, bantah kecil Lyla. “Mbak Lea tukang boong”

“Lyla, tunggu dulu. Besok Mbak Lea belikan”, pinta Lea yang melihat Lyla berlarian ke kamar Lyla lantai dua.

“Burhan Mbak Lea boong sama Lyla. Kemarin mau belikan kaos Bandung, tapi lupa”, cerita Lyla kepada Burhan, temannya.

“Jangan begitu Lyla, mungkin Mbak Lea emang kelupaan. Atau emang tidak sempat. Jangan ngambek”, tenang Burhan kepada Lyla.

“Burhan kok mbelain Mbak Lea. Tenang dulu”

“Lyla kamu bicara sama siapa?”, tanya Mama yang sudah bersadar di dekat daun pintu.

“Ini Lyla bercakap dengan Burhan teman Lyla”

“Mana Burhan. Burhan siapa Lyla? Tidak ada siapapun disini. Cuma Mama sama Dik Lyla”, kata Mama.

“Burhan teman Lyla. Yang sering ngobrol sama Lyla. Dan sering kesini kok Ma?”

“Tidak ada disini Lyla. Kamu ngobrol dengan siapa?”

“Lyla ngobrol sama Burhan Ma”

“Mbak Lyla sudah minta maaf. Tapi dik Lyla, jangan berkhayal seperti ini ya”

“Burhan, lihatlah Mama sudah tidak lagi sayang sama Lyla. Burhan tolong bilang ke Mama agar mereka tahu kamu Burhan”

“Lyla…..?”, Mama memeluk dengan erat Lyla putrid kecilnya dengan deraian air mata yang mengalir deras.

Malam itu Lyla tidak tahu, mengapa mamanya memeluk dan menangis dengan deras. Dari situlah Mama tahu kalau Burhan yang selama ini diceritakan oleh Lyla adalah tokoh fiktif olehnya. Sekarang Lyla menjadi sangat dekat dengan Mama dan keluarga. Tidak sedikitpun Mama biarkan ia sendiri di rumah.

“Lyla, Mama pengen bicara dengan Lyla. Burhan itu tidak ada Lyla. Lyla cuma berkhayal”, tutur mama dengan mendekati Lyla dan memperbaiki posisi jilbabnya.

“Burhan ada Ma. Dia sering temanin Lyla kalau Mama pergi”, jawab Lyla dengan mata berkaca- kaca.

Kembali mata Mama berurai air mata. Mendengar jawaban Lyla, yang sungguh memiriskan semua. Dan Lyla pun harus sekarang rajin ke Dokter Catur. Psikolog yang menjadi teman cerita Lyla saat ini.

“Bu Anis, Lyla termasuk anak yang Delusi. Dia punya tokoh ilusi yang diciptakan sendiri”

Kembali Mama Anis menangis mendengar uraian Dokter Catur siang itu.

Lelaki Tua di Kereta

Glejek...glejek...glejek

Suara itu yang masih saja terdengar, ya suara itu yang terdengar. Selain suara bising dari mulut- mulut yang masih tetap sibuk, dengan rokoknya dan memfasihkan suara- suara parau mereka. Suara parau yang seolah saja berselang- seling dengan kepulan bundar asap tembakau dari ujung rokok membara mereka. Dudukku pun lebih sering berubah sejak pertama naik. Di samping jendela, yang ku yakin sangat berbeda dengan gedung kampus kuliahku, yang sering disikat oleh penjaga dan petugas setiap harinya. Disemprot dengan pembersih dan pewangi. Seolah kinclong tanpa noda. Berbeda dengan jendela kaca di depan ini. Sudah berapa tahun sejak terakhir disikat, kini tersisihkan dengan kesibukan penarik karcis.

“Mas..., kalau kereta ini tiba- tiba berbalik arah gimana?”, tiba sekali bapak berkumis tebal disampingku mengagetkan pikiranku mengomentari jendela kereta sampingku.

“Tidak mungkin, Pak”, jawab singkatku yang kurasa itu adalah pertanyaan konyol yang ditanyakan oleh anak- anak kecil seusia adik kecil dirumah. Yang pikiran mereka masih diselimuti oleh imaginasi kuat akan dunia ini.

“Kereta memang belum pernah berputar balik. Siapa yang bisa menampik, bila itu terjadi?”, dia semakin serius. Urat wajahnya tertarik dengan kuat. Sekuat rasa ingin tahunya atau malah rasa ingin mengguruiku.

“Siapapun tidak dapat menolak kenyataan. Namun logika tak berkata demikian”, kucoba menjawab sedapat pikiran, yang masih saja terbayang tentang kaca jendela yang tadi ku tatap selekat- lekatnya.

Terkekeh- kekehlah keras tawa bapak yang ini. Tawa sepuasnya, seolah aku yang berada di depannya adalah lawak yang siap mengocok perutnya karena guyonan yang kadang tak berkualitas.

“Kalau logika bangsa ini berjalan. Tak bakal aku naik kereta tua ini. Yang pasti museum di tengah Jogja siap kapanpun menampung, sebagai barang purba”, usai menjawab kembali ia menghisap dalam- dalam rokok yang kuyakin itu adalah thingwe, terlihat dari tak satupun merek yang sering ku lihat ketika ke warung dekat rumah. Memang benar itu rokok buatannya sendiri. Dengan kertas dan tembakau dan digulung sendiri.

“Dengarlah Nak bicara orang tua ini. Kereta ini berjalan bukan karena logika, tapi logika yang ada dalam diri Habibi itulah yang berjalan bak kereta. Tapi apa yang sejak tadi kupikirkan tentang kereta yang kita tumpangi ini, selalu saja tak pernah ada ujungnya di logika. Entahlah”, ia kukira sudah setua itu membicarakan seperti itu. Mukanya sudah tidak setegas para demontrans yang kadang turun ke jalan, sekedar memaksa keringat keluar dan badan legam terbakar.

“Apa guna logika kalau begitu?”, kusambungnya dengan tanya yang sebenarnya ku paksakan saja. Biar ia tak terus- terusan bicara. Dengan harap agar ia berhenti, lantaran kelu tak mampu member jawaban. Aroma tembakau dari kedua bibir gelap tuanya, membuat mual bila terlalu membaunya.

“Bicara guna”, kembali tawa besarnya meledak diantara kursi dua yang sedang ku duduki bersamanya. Dan orang- orang pun tak satu yang tertegun. Saking bisingnya bunyi kereta, atau mereka sengaja karena tak mau masuk obrolan yang nggak jelas. Ku dalam hati pun ingin segera sampai di Kutuarjo, untuk menyapa tenang nostalgia rumah beserta keluarga.

“Guna jangan pakai logika. Tak satupun yang orang bilang ada guna, namun masih saja bikin orang tersiksa”, kereta tetap saja berdentum keras- keras membuyarkan suara paraunya bapak itu.

“Masih kau ingat tentang berita koran dua pekan lalu. Dimana orang- orang yang bersuara di kota, meneriakkan demokrasi, dibilang bikin rakyat senang hati. Hanya sehari, namun bikin banyak orang kecewa ditambah sakit hati”, jawabnya berapi- api. Yang ku yakin pastilah orang tua yang duduk disampingku adalah ,mantan aktivis atau apalah namanya.

Raut wajah tuanya tak setua suaranya yang menggelora, mengalahkan suara kereta yang apabila ku sendiri pasti terlelap karena apalah. Sesekali lewat penjaja makanan kereta, lanting, dan nasi bungkus lima ribuan. Dan pastilah yang tak bisa ku tahan adalah ketika bencong lewat sambil mengamen. Pernah sekali ku naik kereta, dicoleklah aku dan jijikku kepadanya semakin menjadi mulai hari itu. Minyaknya bikin pusing berhari- hari. Kata orang minyaknya minyak si nyong- nyong.

Ku ingat kembali bacaan koran dan tayangan tivi dua pekan yang lalu. Ku ingat- dan benar- benar kuingat. Karena aku bukanlah orang yang terampil membaca, dan mengingatnya. Ku baca, dan beberapa kemudian hilang kadang tak lagi kutemukan.

“Berita memang kadang berlebih, Pak. Yang benar, bisa salah. Apalagi yang salah, sudah pasti salah?’, kembali jawabku selalu mengundang tanya selanjutnya saja. Jawabku tidak sempurna, masih tersisa dihalangi malas dan lelah dalam tenggorokan. Seolah akan memuntahkan yang tidak jadi muntah.

Glejek....glejek....glejek

Selalu saja suara kereta itu memecah kebisingan. Suara yang sama sekali tidak nyaman didengar. Kupingku bertambahlah bising karenanya. Atau justru menambah suara bising, yang sudah gaduh dalam kereta. Penjual minuman, dan minuman yang ku tak bakal menjajahinya. Betapapun lapar dan dahaga dalam diri, tak kan kubiarkan makanan yang entah bagaimana memasaknya, masuk dalam perutku. Musisi jalanan penjaja hiburan tidak bakal menghibur keseringan. Musiknya entah masuk atau tidak, hanya menambah kejengkelan dalam pikiran.

“Dik, masih kuliah?”, pertanyaannya mecah di tengah kepulan asap rokok yang bulat- bulat keluar dari mulutnya.

“Kuliah, Pak”, kujawab singkat, sejak awal kutak banyak perhatian ke bapak yang duduk di sampingku. Asap rokok membuat batuk sesekali.

“Masihkah mahasiswa sekarang selantang dulu? Seperti Tan Malaka atau sebayanya?”, tiba- tiba katanya menarik mukaku untuk memperhatikan ke bapak.

“Sepertinya masih lantang Pak. Buktinya sering kudimacetkan oleh mereka yang turun ke jalan. Atau ku temui mereka yang sedang diskusi di ruang diskusi. Yang ditulispun demikian. Lantang menentang, meski harus diburu orang tak senang”, jawabku kini sudah serius. Meski sesekali aku menatap luar jendela, dengan harapan segera sampai ditujuan Kutoarjo.

“Mahasiswa itu yang punya negara. Jendral Harto keluar istana karena mereka. Merekalah yang kelak duduk kembali di istana. Namun tak semua mereka siap seminimal- minimal kayak Harto”, tegasnya begitu saja. Dalam hati kalau diantara penghuni kereta tua ini ada keluarga cendana atau siapa yang disuka mereka, pastilah orang tua ini akan ditindaklanjuti atas omongan santainya. Hayal hanyalah hayal. Mana mungkin, sangatlah kecil peluang mereka untuk kereta yang jendelanya saja lebih bersih lantai dapur rumah mereka.

“Siapa yang kau takuti Nak?”, tanyanya begitu tiba- tiba.

“Tak tahulah Pak? Yang kusegani adalah mereka yang paling sering memberiku nilai C. Ku segan dengan mereka, karena terlebih ketakutanku mendapat nilai serupa dilain kelas”, kujawab dengan jujur saja. Memang itu benarnya, tiada yang kututupi.

Terkekeh kembali tawa bapak itu. Entah apa yang lucu. Dengan kesadaran bahwa memang hampir semua teman sekelas di kampus, semua pada enggan mendapat nilai C atau lebih buruk ketimbang itu. Hampir semua tak hanya diriku. Apa Bapak ini tidak pernah duduk di bangku kampus? Yang hingga ia tidak paham betul bahwa nilai C itu buruk, sangat buruk bagiku. Dimana selama dibangku abu- abu tak sekalipun nilai afektifku mendapat C, maka ku takut dengan huruf kecil itu. Atau mungkin bapak itu hanya berfikir, kalau C hanya untuk vitamin C. Bereratan dengan jeruk, lemon, dan buah yang segar dimulut tentunya. Terlebih dinikmati disiang yang sepanas siang hari ini. Sehingga ia justru senang ketika ia mendengar C kesebut sebagai musuhku dikampus. Mungki sesiang yang panas ini, wajar kalau kadang pikiran masih saja terawan- awan di mega langit biru. Ditambah panas kereta bak sauna di salon saja.

“Hehehehhe. Kau memang mahasiswa sejati. Yang suka dipuji karena IP-nya tinggi”, sambil tertawa ia mencoba untuk menjelaskan. Meski kesal mulai mengahantui lorong- lorong pikiran yang sejak berangkat dari Stasiun Balapan lelah tidak karuan.

“Benar saja lah Pak. Kini harus berjeti-jeti kalau mau masuk perguruan tinggi. Apalagi yang harus dicari kalau begini. Nilai lah pedomannya. Siapa yang tidak mau tersisih harus berjuang melipat lengan baju, untuk maju mengejar nilai itu”, kusaut dengan jawaban yang sesuai apa yang kurasakan. Dan memang itu adalah kenyataan yang sekarang ku alami bersama kawan- kawan dikampus.

“Jaman aku dan temanku dulu, tak sedikitpun berfikir nilai. Biarlah itu urusan acapkali usai ujian, dan awal mulai mendaftar kembali. Tak sedikitpun kupkirkan setiap berangkat dari pondokan. Ia kutinggalkan bersama tumpukan salinan yang lain. Benar kutinggalkan. Tak pernah ku sentuh. Hanya kalau usai semesteran, baru mulai ku cari- cari. Itupun kadang tak kutemukan terselip entah dimana, diantara buku bacaan yang jauh, jauh, jauh lebih banyak ketimbang dektat buku kampus. Sejak awal tak kuingat satupun rumus mencari kebenaran fisika, yang menjadi jurusan ku dahulu. Kubiarkan saja tak ku ketahui ku simpan di bagian mana dalam otakku. Atau mungkin tak pernah sedikitpun masuk dalam otakku”, begitu panjang ceritanya.

Sebenarnya ku sering sekali mendapatkan ceritera seperti ini. Mahasiswa dulu yang jarang sekali melibatkan akademik dalam dunia kampusnya. Lebih sering berwacana, tanpa pernah berfikir tentang penelitian dan bagaimana menjadi orang nomor satu di bidangnya. Berbeda memang apa yang ku pikirkan dengan bapak yang satu ini. Jelas ia tidak akan terfikirkan untuk hal itu. Apa yang ada di kepalanya hanya mendobrak orang yang ada di atasnya. Di kepala yang sudah hampir berwarna putih semua. Masih saja berfikir seperti itu.

“Berbeda Pak, zaman dulu bapak masih kuliah dengan sekarang. Dunia dulu masih bisa mengejar kita, meski Bapak dulu lebih sering di jalanan ketimbang duduk mendengar ceramah dosen. Sekarang kita yang harus mengejar sekuat tenaga dunia itu, padahal kita lebih tinggi frekuensinya di dalam kelas. Memang dunia sekarang jauh lebih kejam ketimbang dulu Pak”, nafasku terengah- engah menjawabnya. Dadaku terasa sesak, harus menjawab sedemikiannya. Ku tahu ini sedikit tidak sopan, namun itulah suara kalbuku. Tidak bisa dibohongi sedikitpun, apalagi ditengah bising kereta yang sudah pantas masuk museum saja. Tambah kesal jadinya. Mengapa juga kereta ini tidak segera sampai di Kutuarjo. Bosan aku duduk bersandingan dengan tua ini. Otakku terkuras dan keringat deras, karena panas sauna dalam kereta.

Penjual minuman dingin, dan nasi bungkus ber-sliwer-an dalam lorong kereta yang sudah sesak dipenuhi orang- orang yang duduk beralas koran saja. Sudah berapa kali mereka lewat bolak- balik melewati posisi duduk kami. Melompati mereka yang sedang duduk, dan tidur di sela- sela kursi kami semua. Tidur merokok, dan berlaga keren dalam kereta. Menambah serba berantakannya kereta yang kunaiki bersama bapak tua di sampingku ini sejak dari Balapan Solo. Serba aneh memang mereka semua. Mereka membayar sama, tapi mau saja didudukan di lantai kereta super kotor. Bahkan lebih kotor ketimbang lubang kloset rumahku. Memang mereka mau saja didemikiankan.

Glejek….glejek….glejek….

Kami duduk berdua satu bangku. Dihadapan kami berdua sudah sejak dari kami memilih duduk ini, mereka dua lelaki duduk terlebih dahulu. Entah apa yang mereka pikirkan tentang perdebatan aku dan Bapak tua ini. Karena sejak kami berangkat mereka berdua hanya duduk diam, tanpa sedikitpun suaranya terdengar. Bahkan suara kentut dan baunya saja tak kami rasa. Hanya sesekali asap rokoknya menambah penuh sesak asap rokok dari Bapak yang di sampingku.

Siang itu ku rasa memang jauh lebih lama dibanding biasa. Stasiun Balapan hingga Kutuarjo serasa perjalanan ke Jakarta saja. Jauh, jauh lebih lama. Botol air mineral pun sudah kosong, habis terminum karena sengat panas yang sangat siang ini. Karena memang bulan agustus adalah puncak panas musim biasa. Entahlah mungkin ini seribu keberuntungan yang ku dapati. Sudah panas, sesak, ditambah dengan duduk disamping Bapak tua yang aneh sekali pikirannya.

“Nak… mengapa hamparan padi ini tak segera dipetik oleh si empunya?”, tiba- tiba ia berkata demikian. Sembari memandang ke luar jendela kaca depan mukaku.

“Pasti karena ini belum tua Bapak. Daunnya masih hijau, isinya pun belum penuh Pak. Mereka belum merunduk sepenuhnya. Masih separuh yang kosong Pak. Empunya pasti tak akan mau rugi banyak kalau dipanen. Mereka menunggu untung besar datang, baru mereka panen ramai- ramai. Mirip pesta panen”, kuutarakan apa yang kuketahui saja. Empunya pasti takkan mau memanen sesuatu yang justru bikin rugi besar. Padi yang belum kuning sempurna ini hanya akan membawa rugi besar, jikalau diunduh sekarang.

“Empunya akan selamanya rugi Nak. Kalau yang punya harga memainkan mereka. Mengombang- ambingkan harga gabah. Tinggi sebelum panen, dan jatuh rendah kalau mereka membawa padi dari sawah”, suaranya kini pelan seolah- olah begitu empati melihat padi yang begitu- gitu saja nasib setiap tahunnya. Tidak ada yang berubah dari waktunya.

“Sekali ini saja ku ketahui, banyak padi- padi muda yang belum usai berisi harus putus di tengah waktu. Mereka masih punya setengah selongsong ini yang belum terisi. Mereka dihentikan oleh si harga. Mereka lebih sering demikian. Dan hanya sapi- sapi rakus yang akan menelan. Sapi- sapi di pasar, di sawah, dan di ladang kotor. Seharusnya ia akan menjadi sarapan pagi dosen, dekan, bahkan rektor universitas kenamaan. Itulah padi muda yang malang. Tak sempat berisi namun sudah mati ditelan harga tinggi”, paparnya begitu panjang.

Namun mendengarkannya kali ini sungguh terenyuh. Masuk ke dalam dan menyatu dalam nadi berdenyut- denyut. Bapak ini telah meyalakan api sekam yang ada dalam diriku. Biarkan ia menyala Pak, agar orang- orang disekitarku dapat merasakan hangatnya sebuah unggun dalam tubuh pemuda satu ini. Kata penuh kiasan ini membuatku kembali pada- pada buku syair yang sudah lama sekali ku tinggalkan sejak masuk ke kampus. Buku- buku syair yang dulu ku gemari lantaran tugas resensi yang diberi oleh ibu guru.

“Pak. Disamping padi muda yang mati sebelum berisi. Juga ada mereka yang sengaja mengosongkan isi- isi padi muda itu. Menelankan mereka dalam perut jalanan yang ganas seperti kereta ini. Sehingga ia terbakar oleh asap knalpot dan putung rokok jalanan. Mereka hilang masuk dalam gang- gang sempit kota. Padi itu kalau sudah begini, akan susah kembali”, tambahanku atas apa yang diomongkan oleh orang tua di sampingku ini. Ia memang sungguh bijak dalam berucap dan bersapa.

Panas kereta kini sudah semakin saja panas. Ditambah lagi ucapan pedas oleh bapak ini. Membuat hati semakin saja terbakar oleh amarah.

Glejek…glejek…glejek….

“Nak. Janganlah kau jadi seperti tengkulak. Yang hanya memasok makan untuk perut sendiri. tak pernah peduli dengan orang di lain sisi. Mereka juga butuh nasi padi, bukan nasi basi sisa sapur mereka. Mereka masih punya hati Nak. Jangan jadi tengkulak apapun, baik tengkulak harga atau tengkulak beras. Yang memakan yang muda, apalagi tua yang sudah berisi”, tutur nasihat yang ia ucapkan. Mirip kata- kata eyang kakung bila idul fitri tiba, dan kita sungkem dihadapan para orang tua keluarga.

“Akan kuusahakan Pak”, jawabku meski aku benar sekali tidak bakalan menjadi seorang tengkulak. Tengkulak samping rumahku saja dicemooh seluruh warga kampong. Akhirnya ia pun menjadi pedagang pasar belaka.

Masih saja Kutoarjo belum juga ada di samping jendelaku. Ku rasa tinggal satu stasiun lagi, ku kansampai di Kutoarjo. Ku sudah merindunya sejak ku naik dari Balapan tadi. Stasiun ke stasiun serasa lama sekali, hingga pantat ini berkunang- kunang saja rasanya. Berulang kali ku ganti posisi dudukku. Biar tak semakin pegal posisi dudukku. Apalagi kaki- kaki ini tak bisa selonjoran sempurna. Ku maklum karena ini kereta kelas ekonomi, yang biasa dinaiki oleh warga kurang berada, atau ungkin dinaiki oleh orang yang memang sengaja menghemat pengeluaran.

“Nak, adik turun mana? Atau akan melanjutkan perjalanan jauh ke istana?”, pertanyaannya membuyarkan semua usaha untuk sekedar melepas penat berdiskusi dengan dia.

“Kutoarjo, Pak?”, jawabku singkat karena ku lirik paling tidak sepuluh menit lagi Stasiun Kutoarjo akan sampai dan ku turun di sana.

“Hati- hati di jalan. Jangan sampai kau berkenti di jalan. Umurmu masih sangat dini. Cita- citamu Bapak yakin tinggi. Raihlah itu. Dan segeralah turun ke jalan kembali, agar orang lain merasakan apa yang kau miliki. Jangan sampai kau sembunyikan gigi kalau kau dijalan nanti. Hati- hatilah nak. Banyak yang tak senang dengan yang muda saat ini”, nasihatnya sebijak usianya kukira. Nasihat yang pastinya tak kudapatkan dibangku kelas di kampus. Hanya dari bapak tua, yang duduk disampingku sejak dari Balapan ini. Di kereta tua yang jendelanya saja sudah tak karuan debunya, membuat tambah kotor jendela yang using usianya.

Ku beranjak dari kursi kereta di pojok dekat jendela. Ku ambil ransel yang ada di tempatnya di atas kursi kami. Ku beranjak dari tempat duduk kami. Bapak itu masih saja asyik menghisap rokok dan sesekali mengeluarkan asap pekat dari kedua celah mulut keriput tua. Kutoarjo sudah di depan. Kereta pun sudah mulai melambat dan tepat di depan mulut turun stasiun kutoarjo kereta berhenti.

Langkah mulai menapak di jalan beraspal di stasiun. Berjuta aktivitas warga berjubel distasiun. Terutama penjual kelontong, dan makanan yang siap dijajakan. Termasuk makanan khas, yang biasa digunakan sebagai buah tangan para pelancong ataupun tamu yang datang ke Kutoarjo.

Nasihat- nasihat bapak itu sungguh aneh dan dapat ku ingat semua kata- katanya.

“Ah… aku lupa menanyakan siapa nama Bapak itu? Atau sekedar bertukar nomor Hp?”

Jogja, Agustus 2009

***

thingwe : rokok dengan bahan terpisah, dan digulung sendiri (jw: nglinthing dhewe)

lanthing : makanan kecil khas jogja